MENGAIS BERKAH ULAMA & AULIYA’

Sabtu malam Ahad, 11 Maret 2017 atau kemarin malam, penulis berkesempatan menghadiri peringatan 1000 hari wafatnya KH. Ahmad Idris Marzuqi di Pondok Pesantren Lirboyo kota Kediri. Acara yang ditempatkan di dalem beliau itu dihadiri oleh para kyai, alumni dari berbagai daerah, santri, dan beberapa pejabat pemerintah yang jumlahnya mencapai tujuh sampai delapan ribu orang. Selain di dalam *dalem*, pihak keluarga menyiapkan tenda dan kursi dan hamparan karpet.
Acara dimulai dengan lantunan qashidah dan shalawat dari santri-santri Pondok Pesantren Lirboyo sambil menanti kehadiran para tamu. Selanjutnya pembacaan surat Yasin oleh KH. Abdul Hamid bin Abdul Qadir al-Hafidz pengasuh PPTQ Ma’unah Sari Bandar Kediri. Pembacaan tahlil dipimpin oleh KH.M. Anwar Manshur pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo dan doa dipanjatkan oleh KH. Zainuddin Jazuli pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri. Sambutan shahibul bait disampaikan oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus. H. Abu Bakar menyampaikan sambutan berikutnya mewakili pemerintah kota Kediri.
Acara semalam semakin meriah namun tetap khidmat ketika Sayyid Jamal bin sayyid Muhammad Kalim Asyraf al-Jilani melantunkan beberapa qashidah dengan cengkok India. Suaranya yang nyaring, merdu dengan nada tinggi khas India mampu membawa hadirin larut dalam buaian senandung pujian kepada Sayyidil wujud, Nabi Muhammad SAW. Acara dilanjutkan dengan mau’idhah hasanah yang disampaikan oleh Sayyid Muhammad Kalim Asyraf al-Jilani al-Hindi. Beliau adalah keturunan dari Sulthanul auliya’ Syaikh Abdul Qadir al-Jilani yang bermukim di India dan mursyid thariqah Qadiriyyah Jistiyyah. Sebagai umat Nabi Muhammad SAW seharusnya umat Islam selalu mengikuti sunah-sunahnya. Demikian paparan sayyid Kalim dalam ceramahnya. Selanjutnya beliau mengutip firman Allah SWT:
قل ان كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغغر لكم ذنوبكم
Ayat tersebut menjelaskan bahwa jika umat Islam ingin mencintai dan dicintai Allah SWT, maka ikutilah sunah-sunah Nabi SAW dan Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka.

Lebih jauh sayyid Kalim menegaskan bahwa semua ibadah pasti mengandung sunah-sunah Nabi SAW. Contohnya berwudlu. Ayat yang menjadi dasar pelaksanaan wudlu adalah:
…فاغسلوا وجوهكم وايديكم الي المرافق وامسحوا برؤوسكم وارجلكم الي الكعبين
Walaupun dalam ayat tersebut fardlunya wudlu dimulai dengan membasuh muka, namun Nabi SAW menambahkan tiga sunah sebelumnya, yaitu membasuh tangan sampai pergelangan, berkumur dan menghirup air kedalam hidung dan mengeluarkannya. Hikmah yang terkandung dari ketiga sunah tersebut adalah karena air itu mempunyai tiga sifat, yaitu warna, bau dan rasa. Dengan membasuh tangan, orang yang berwudlu bisa mendeteksi warna air. Dengan berkumur bisa mendeteksi rasa air, dan dengan menghirupnya kedalam hidung bisa mendeteksi bau air. Sehingga, sebelum membasuh wajah yang merupakan fardlu/rukunnya wudlu, bisa diketahui kualitas air yang akan digunakan, apakah layak digunakan atau berbahaya.
Demikian juga dalam ibadah shalat, tidak terlepas dari sunah-sunah Nabi SAW, seperti membaca doa iftitah, ta’awudz, bacaan ruku’, bacaan sujud, dan lain-lain. Alhasil, semua ibadah pasti mengandung sunah Nabi SAW. Oleh karena itu, maka Nabi SAW harus dijadikan wasithah untuk wushul kepada Allah SWT.
Mau’idhah hasanah kedua disampaikan oleh Habib Umar al-Muthahar dari Semarang. Para ulama dimanapun domisilinya, baik di Jawa, Kalimantan, Sumatera, bahkan di India merupakan talang pembawa ajaran Nabi Muhammad SAW. Talang mesti berada diatas, kalau dibawah namanya selokan. Talang mengalirkan air yang bersih, dan iapun juga bersih. Demikian juga para ulama pewaris Nabi. Beliau harus diposisikan di tempat yang tinggi, karena ajaran yang dibawanya penuh dengan kebaikan dan beliaupun tentu sosok yang baik. Habib Umar menyampaikan suatu maqalah:
ان الله يعطي الدنيا الي من يحبه والي من لا يحبه ولكن يعطي هذا الدين الي من يحبه فقط
Sesungguhnya Allah SWT memberikan dunia kepada orang yang dicintainya dan yang tidak dicintainya, namun Allah memberikan agama ini hanya kepada orang yang dicintainya.
Habib Umar sslanjutnya menjelaskan, Seorang murid akan mendapatkan limpahan keberkahan dari sang guru manakala ia memposisikan dirinya dibawah talang, karena disebutkan dalam satu maqalah:
البركة تجري كجرية الماء
Keberkahan mengalir bagaikan aliran air
Air mengalir selalu dari ketinggian menuju kebawah. Oleh karenanya, murid harus merendahkan diri di hadapan guru, menghormati dan memulyakan guru baik saat beliau masih hidup maupun sudah wafat, karena dari gurulah keberkahan akan didapat.
Habib Umar mencontohkan hal yang terjadi pada Syaikh Abdul Qadir al-Jilani saat masih remaja. Ketika itu di Baghdad terdapat seorang wali yang masyhur dan nampak berbagai karamahnya. Abdul Qadir muda dan dua orang temannya hendak sowan kepada kepada wali tersebut. Teman pertama punya niatan untuk bertanya kepada sang wali tentang suatu permasalahan. Yang kedua ingin mengetahui jawaban sang wali jika disodori pertanyaannya atau ada niatan menguji kemampuan wali tersebut. Sementara remaja Abdul Qadir bertujuan untuk memandang wajah sang wali dan mendapat berkah darinya. Sesampai di kediaman sang wali ketiga remaja itu mendapatkan apa yang diniatkan. Remaja pertama oleh sang wali dinyatakan akan menjadi orang yang pandai, berilmu, namun ilmunya tidak bermanfaat. Yang kedua ditegaskan nantinya akan mati su-ul khatimah. Sedangkan Abdul Qadir akan menjadi orang yang alim dan dilimpahi keberkahan sebagaimana niatannya.
Alhasil, orang pertama berhasil menjadi orang yang alim, berilmu tapi tidak dapat memanfaatkan ilmunya karena disibukkan urusan dunianya. Orang kedua berhasil menjabat sebagai qadli/hakim di wilayahnya, namun ketika dalam satu kesempatan dia terpesona oleh kecantikan seorang wanita non muslim dan bermaksud menikahinya. Ternyata, wali wanita tersebut menyaratkan harus mengikuti agamanya bila ingin menikahi putrinya. Celakanya, si qadli bersedia mengikuti agama perempuan tersebut (murtad). Belum berselang lama dari pernaikahannya, daerah qadli itu diserang musuh, maka iapun angkat senjata berperang hingga ajal menjemputnya dalam keadaan tidak muslim. Na’udzu billahi min dzalik. Sedangkan Syaikh Abdul Qadir, karena curahan berkah dari seorang wali berhasil mendapatkan derajat kewalian, bahkan menjadi raja sekalian wali, sulthanul auliya’. Ungkapan yang masyhur dari beliau adalah:
قدمي علي رقبة كل ولي لله
Telapak kakiku berada diatas tengkuk semua walinya Allah.
Acara dipungkasi dengan bacaan doa oleh Sayyid Muhammad Kalim Asyraf al-Jilani.
Semoga bermanfaat.

Iklan

komentar sahabat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s