KISAH AL HABIB UMAR BIN HAFIDZ DENGAN SEORANG MURIDNYA YANG MERASA SUDAH TIDAK MEMILIKI RASA TA’LUK (IKATAN HATI) DENGAN GURUNYA

Kisah seorang murid Al Habib Umar bin Salim bin Hafidz yg sangat mempunyai rasa ta’aluk (ikatan hati) yg sangat erat kepada beliau.Sepulangnya ke tempat ia tinggal, ia merasa sangat jauh & sudah tidak memiliki ikatan kepada Habib Umar, ia bermaksiat bahkan ia lupa dengan ajaran gurunya seperti bukan seorang murid.Pada suatu hari, Al Habib Umar berdakwah ke daerahnya dan ia mengetahui bahwa gurunya akan datang berdakwah, ia sangat senang tetapi disisi lain ia takut dan malu untuk bertemu Al Habib Umar, ia berusaha menghindar agar tdk bertemu. Tetapi Allah menakdirkan sesuatu yg tdk disangka, ia tdk sengaja bertemu Al Habib Umar, lalu beliau mengajaknya bersalaman, ia sangat malu. Al Habib Umar tersenyumkepadanya dan berkata dg ucapan yg tdk pernah terbayang olehnya, “Thir ya thoir, hablak ma’ana” yg artinya “Terbanglah wahai burung, talimu bersama kami”(kau bebas berbuat apapun sepuasmu, bahkan maksiat, ketahuilah talimu berada di tanganku, kapanpun aku ingin menarikmu kembali, aku mudah untuk melakukannya)Ketahuilah, ikatan yg sudah terjalin tidak akan terputus. Inilah inayah (perhatian) dari seorang guru, dari Rasulullah dari orang tua. Tanpa disadari saat kaumelakukan perbuatan yg kurang baik, kau akan ditegur. Kau seperti burung yg kakinya terikat, tidak akan terlepas meski kau terbang kemanapun.Allahumma Shalli ‘Alaa Sayyidina Muhammad Wa ‘Alaa Aali Sayyidina Muhammad.

Iklan

komentar sahabat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s