Haul mbah KH. Muhammad Abdul Malik bin Ilyas

15741184_10154044311250766_4974015545429596400_n

15697206_10154044311515766_2353622343729983845_n

15781306_10154044311970766_3957792588024616527_n

15781161_10154044311650766_4446290218226017647_n

15665863_10154044312720766_2775741038258237570_n

15697445_10154044312415766_1297806550044774347_n

15697783_10154044312845766_2056712377065682294_n

15726487_10154044312140766_4350150232652924628_n

Alhamdulillah wa Syukurilah walau disambut guyuran hujan deras acara Peringatan Maulid Nabi SAW dan Haul mbah KH. Muhammad Abdul Malik bin Ilyas dan Para Mursyid Thariqah, Senin, 26 Desember 2016 Pukul 20.00 di Komplek Pondok Pesantren Bani Malik Kedung Paruk Desa Ledug kecamatan Kembaran. Acara tetap berjalan lancar dan khidmah, walau hujan deras tidak menyurutkan antusias para pengunjung yang hadir malam itu.

Siapakah mbah KH Muhammad Abdul Malik bin Ilyas? Beliau adalah guru utama dan Mursyid dari Mawlana al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya.

Sebelum Maulana Al Habib Luthfi bin Yahya mondok di Kedung Paruk Banyumas dengan Mbah Abdul Malik, Habib Luthfi ngaji dengan mbah Kyai Bajuri Indramayu. Beliau adalah sosok yang sangat luas sekali ilmunya, khususnya dalam bidang fiqih. Setiap kali ditanya beliau menjawab permasalahan dengan ilmu fiqih. Beliau menjelaskanya empat madzhab sekaligus, dan hampir tidak terlihat perbedaan antar empat madzhab setiap kali beliau menjelaskan permasalahan tersebut karena sking luasnya ilmu beliau dan pandainya beliau dalam menempatkan persoalan fiqih.

Begitu juga maqam kewalian beliau sangatlah tinggi, beliau termasuk wali autad (dalam dunia tasawuf wali autad hanya ada empat dalam 1 abad). Seminggu sebelum Kyai Bajuri wafat, kaki beliau tertusuk oleh paku hingga tembus ke atas, dan beliau dawuh kepada Habib Luthfi, “Anu yik (habib) setiap orang dapat rezekinya berbeda beda.”

Sontak perkataan beliau membuat Habib Luthfi kaget. Orang tertusuk paku kok di bilang rezeki? “Tapi nggak usah khawatir yik nanti ada guru yang lebih hebat dari saya, beliau adalah guru saya. Namanya Mbah Abdul Malik, tapi jangan kaget ya yik, beliau orangnya berambut gondrong.” kata Kyai Bajuri.

Setelah wafatnya Kyai Bajuri, Habib Luthfi langsung menuju ke tempat Mbah Malik di Kedung Paruk Purwokerto. Sesampainya di sana Habib Luthfi disambut oleh Mbah Malik. Dengan tersenyum Mbah Malik bertanya kepada Habib luthfi, “Gimana yik dengan Kyai Bajuri?”

Lagi lagi beliau dibuat kaget, di dalam batin beliau berkata kedua orang ini kapan ketemunya, dan kapan ngobrolnya?

Selama Habib Luthfi mondok di Kedung Paruk, beliau lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berkhidmah kepada gurunya Mbah Malik. Bahkan beliau bercerita ketika dulu pas waktu mondok di Kedung Paruk beliau tidak sempet menghatamkan kitab Jurumiyah dan Safinah, akan tetapi ketika menjelang Mbah Malik wafat, Habib Luthfilah yang diamanati oleh Mbah Malik untuk meneruskan kemursyidan beliau dan cucunya Mbah Malik…

Satu hal yang sering diungkapkan dalam berbagai kesempatan oleh murid kesayangan Mbah Malik yakni Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya (Pekalongan) bahwa beliau memiliki ratusan guru ruhani, tapi yang “kemantil-kantil” di pelupuk mata beliau adalah Mbah Malik.

Beliau disamping dikenal memiliki hubungan yang baik dengan para ulama besar umumnya, Syaikh Abdul Malik mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ulama dan habaib yang dianggap oleh banyak orang telah mencapai derajat waliyullah, seperti Habib Soleh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul, Jember), Habib Ahmad Bilfaqih (Yogyakarta), Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Probolinggo), KH Hasan Mangli (Magelang), Habib Hamid bin Yahya (Sokaraja, Banyumas) dan lain-lain.

Diceritakan, saat Habib Soleh Tanggul pergi ke Pekalongan untuk menghadiri sebuah haul. Selesai acara haul, Habib Soleh berkata kepada para jamaah, ”Apakah kalian tahu, siapakah gerangan orang yang akan datang kemari? Dia adalah salah seorang pembesar kaum ‘arifin di tanah Jawa.” Tidak lama kemudian datanglah Syaik Abdul Malik dan jamaah pun terkejut melihatnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Kraksaan, Probolinggo) bahwa ketika Syaikh Abdul Malik berkunjung ke rumahnya bersama rombongan, Habib Husein berkata, ”Aku harus di pintu karena aku mau menyambut salah satu pembesar Wali Allah.”

Sebagaimana diungkapkan oleh murid beliau, yakni Habib Luthfi bin Yahya, Syaikh Abdul Malik tidak pernah menulis satu karya pun. “Karya-karya Al-Alamah Syaikh Abdul Malik adalah karya-karya yang dapat berjalan, yakni murid-murid beliau, baik dari kalangan kyai, ulama maupun shalihin.”

Diantara warisan beliau yang sampai sekarang masih menjadi amalan yang dibaca bagi para pengikut thariqah adalah buku kumpulan shalawat yang beliau himpun sendiri, yaitu Al-Miftah al-Maqashid li-ahli at-Tauhid fi ash-Shalah ‘ala babillah al-Hamid al-majid Sayyidina Muhammad al-Fatih li-jami’i asy-Syada’id.”

Shalawat ini diperolehnya di Madinah dari Sayyid Ahmad bin Muhammad Ridhwani Al-Madani. Konon, shalawat ini memiliki manfaat yang sangat banyak, diantaranya bila dibaca, maka pahalanya sama seperti membaca kitab Dala’ilu al-Khairat sebanyak seratus sepuluh kali, dapat digunakan untuk menolak bencana dan dijauhkan dari siksa neraka.

Syeikh Abdul Malik mengatakan, ada tiga pesan dan wasiat yang disampaikan :
Pertama, jangan meninggalkan shalat. Tegakkan shalat sebagaimana telah dicontohkan Rasululah SAW. Lakukan shalat fardhu pada waktunya secara berjama’ah. Perbanyak shalat sunnah serta ajarkan kepada para generasi penerus sedini mungkin.

Kedua, jangan tinggalkan membaca al-Qur’an. Baca dan pelajari setiap hari serta ajarkan sendiri sedini mungkin kepada anak-anak. Sebarkan al-Qur’an di mana pun berada. Jadikan sebagai pedoman hidup dan lantunkan dengan suara merdu. Hormati orang-orang yang hafal al-Qur’an dan qari’-qari’ah serta muliakan tempat-tempat pelestariannya.

Ketiga, jangan tinggalkan membaca shalawat, baca dan amalkan setiap hari. Contoh dan teladani kehidupan Rasulullah SAW serta tegakkanlah sunnah-sunnahnya. Sebarkan bacaan shalawat Rasulullah, selamatkan dan sebarluaskan ajarannya.

Pada hari Kamis, 21 Jumadil Akhir 1400 H. yang bertepatan dengan 17 April 1980 M. sekitar pukul 18.30 WIB (malam Jum’at), Syekh Abdul Malik meminta izin kepada istrinya untuk melakukan shalat Isya’ dan masuk ke dalam kamar khalwat-nya. Tiga puluh menit kemudian, salah seorang cucunya mengetuk kamar tersebut, namun tidak ada jawaban. Setelah pintu dibuka, rupanya sang mursyid telah berbaring dengan posisi kepala di utara dan kaki di selatan, tanpa sehela nafas pun berhembus. Syeikh Abdul Malik kemudian dimakamkan pada hari Jum’at, selepas shalat Ashar di belakang Masjid Bahaul Haq wa Dhiyauddin Kedung Paruk, Purwokerto.

Iklan

komentar sahabat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s