Manaqib Habib Hasyim Bin Yahya Pekalongan, Kakek Habib Luthfi Bin Yahya

14671213_542037482658769_5012289908197163281_n14666249_542037555992095_3931516918345191766_n

 

 

 

 

 

 

 

 

Habib Hasyim bin Umar bin Yahya merupakan kakek dari Maulana Habib M. Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan. Beliau adalah orang yang merintis dakwah serta mendirikan pesantren dan madrasah diniyah pertama di Kota Pekalongan. Pondok pesantren tersebut didirikan untuk masyarakat umum yang santrinya tidak hanya dari kalangan habaib.
Habib Hasyim dan para ulama merintis dakwah melalui Maulid Nabi Saw. sehingga masyarakat lebih jauh mengenal dan mengerti Islam, al-Quran dan lain sebagainya dalam syariat Allah serta mengenal pembawa al-Quran yaitu Baginda Nabi Muhammad Saw. Maulid Nabi tersebut melahirkan para pencinta atau muhibbin, cinta kepada Allah dan RasulNya. Seseorang yang tumbuh kecintaan kepada Allah dan RasulNya, maka akan cinta kepada al-Quran dan akan lebih berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
Maulid Nabi yang diselenggarakan oleh Habib Hasyim bertempat di Masjid Nur Kota Pekalongan. Habib Hasyim dalam mengadakan Maulid Nabi tidak memungut bantuan dari manapun karena kekayaan Habib Hasyim dicurahkan untuk dunia pendidikan dan dakwah. Penghasilan Habib Hasyim berupa pertanian yang cukup luas di Indramayu, tempat kelahirannya, disamping bisnis yang lainnya.
Perkembangan Maulid Nabi dari tahun itulah mulai ramai di Kota Pekalongan dan semakin pesat sehingga tidak terlepas dari kecurigaan penjajah. Para penjajah memandang maulid tersebut tidak bertendensi politik. Habib Hasyim, khususnya, waktu itu sangat besar pengaruhnya karena beliau menjadi rujukan para ulama di jaman itu, diantaranya Mbah Hasyim Asy’ari dan Kiai Muh. Amir (Ki Amir) Simbang dan tokoh-tokoh lainnya yang terkenal ke-‘alllamah-annya (sangat alim). Sehingga pihak penjajah pun sangat berhati-hati dalam menghadapi dan menakutinya. Bahkan Kiai Amir mengatakan bahwa Habib Hasyim itu ‘allamatuddunya fi zamaanih (sealim-alimnya orang di dunia pada zamannya).
Habib Hasyim mempunyai cara mendidik para putra-putrinya dan juga santrinya dengan tidak memberi umpan atau ikan, tapi selalu memberi kailnya sehingga para murid dan putra-putrinya militan. Habib Hasyim sebelum membangun dan membawa pesantren tidak pernah berhenti berdakwah masuk dari satu desa ke desa lainnya. Beberapa mushala dibangun oleh Habib Hasyim di Pekalongan. Semenjak mudanya harta, benda dan tenaga Habib Hasyim dicurahkan untuk kepentingan agama.
Kekompakan Habib Hasyim Bin Yahya dengan Habib Ahmad Alattas Pekalongan
Dua ulama ‘arif billah ini hidup satu masa dan bertempat di lokasi yang tidak berjauhan; sama-sama tinggal di Pekalongan. Dikisahkan saking kompaknya, ketika Habib Hasyim hendak melakukan satu kegiatan atau satu rencana Habib Hasyim selalu meminta ijin dan saran dari Habib Ahmad bin Thalib Alattas. Pun demikian sebaliknya jika belum meminta restu dari Habib Hasyim, Habib Ahmad Alattas tidak akan berani melangkah.

Kalau Habib Hasyim sudah datang ke tempat Maulid Nabi, sementara Habib Ahmad bin Thalib belum datang maka Habib Hasyim menangguhkan acara sampai datangnya Habib Ahmad. Begitu juga dengan Habib Ahmad, jika beliau datang pertama sementara Habib Hasyim belum datang, beliau urung untuk memulai.
Kekompakan keduanya terlihat ketika seorang habib asal Hadhramaut hendak pamitan pada keduanya. Dikisahkan, pada permulaan abad 20-an Habib Muhammad Ali Muhsin datang dari Hadhramaut ke Indonesia, tepatnya kota Pekalongan. Setelah tinggal di Indonesia sang habib merasa tidak kerasan. Ketika hendak pamitan, beliau merasa kebingungan mana yang pertama didatangi, Habib Ahmad bin Thalib Alattas ataukah Habib Hasyim bin Umar bin Yahya. “Habib Ahmad atau Habib Hasyim,” terus saja sambil jalan berfikir demikian.
Ketika beliau datang ke rumah Habib Ahmad, Habib Muhsin belum sempat bicara Habib Ahmad sudah berseloroh, “Ya Muhsin ila Habib Hasyim bin Umar awwalan” (Hai Muhsin pamitan ke Habib Hasyim dulu).
Langsung saja beliau datang ke Habib Hasyim. Ketika berpamitan ke Habib Hasyim, Habib Hasyim mengatakan, “Kuburanmu di sini, dan di sini kotamu. Nanti kamu yang menggantikan kami semua.”
Habib Muhsin datang ke Habib Ahmad, Habib Ahmad berkata, “Apa yang dikatakan Habib Hasyim adalah perkataanku.”
Kemudian hari terbukti, ketika Habib Ahmad wafat Habib Muhsin yang menggantikan Habib Ahmad mengajar di Salafiyah bersama Habib Muhammad Abdurrahman. Ketika Habib Hasyim wafat yang menggantikan menjadi imam Masjid An-Nur adalah Habib Muhsin.
Habib Hasyim wafat dengan meninggalkan masjid, pondok pesantren dan madrasahnya beserta kitab-kitab beberapa lemari dan dua jubahnya. Satu jubah untuk shalat bergantian dan satunya yang dipakai sewaktu meninggal. Pakaian Habib Hasyim yang baru banyak diberikan kepada masyarakat yang tidak mampu.

komentar sahabat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s