NIAT PUASA

Yang wajib dihadirkan di dalam niat adalah :

1. Untuk puasa wajib :

a. Bermaksud berpuasa
b. Meyakini kefardhuannya (bahwa puasa yang akan dilakukan adalah wajib)
c. Menentukan jenis puasanya

Ini semua cukup dilintaskan di dalam hati saja dan jika diucapkan dengan lidahnya asal hatinya tetap ingat akan niat tersebut maka puasanya juga sah bahkan sebagian ulama menganjurkan untuk diucapkan dengan lidahnya de-ngan bahasa apapun untuk membantu hati mengingat niat tersebut.

Contoh : “Aku berniat puasa Fadhu Ramadhan” (نَوَيْتُ صَوْمَ رَمَضَانَ فَرْضًا)

Aku Berniat Puasa = Bermaksud Puasa
Fardhu = Meyakini kefardhuannya
Ramadhan = Menentukan jenis puasanya.

2. Untuk puasa sunnah

1. Sunnah rowatib atau puasa sunnah yang sudah ditentukan waktunya seperti puasa 6 syawal atau puasa senin dan kamis. Cara niatnya adalah :

a. Bermaksud berpuasa
b. Menyebut puasa yang akan di lakukan

Contoh : “Aku niat Puasa hari kamis”نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الْخَمِيْسِ

Aku niat puasa = Bermaksud Puasa
Hari kamis = Menentukan jenis puasa sunnahnya

2. Puasa sunnah mutlaqoh atau puasa sunnah di selain hari-hari yang telah ditentukan. Cara niatnya adalah cukup bermaksud untuk berpuasa

Contoh : “Aku Niat Puasa” . نَوَيْتُ الصَّوْمَ

Catatan :
Di dalam berniat tidak harus menggunakan bahasa arab, akan tetapi dengan bahasa apapun niatnya maka puasa tetap sah.

Waktu niat di dalam berpuasa ada dua macam :

1. Puasa Fardhu
Untuk puasa fardhu (wajib) maka niatnya harus dilakukan sebelum terbit fajar sodik (fajar yang sesungguhnya) atau sebelum masuk waktu subuh.

Catatan:
Semua niat dalam ibadah adalah dila-kukan di awal memulai pekerjaan iba-dahnya kecuali puasa yang cara niatnya adalah bisa di malam hari jauh-jauh sebe-lum fajar shodiq terbit.

2. Puasa sunnah
Untuk puasa sunah tidak diharuskan niat pada malam harinya akan tetapi boleh berniat di pagi hari dengan 2 syarat :

1. Belum tergelincir matahari
2. Belum melakukan sesuatu yang mem-batalkan puasa yang tersebut di atas seperti makan atau minum.

Catatan :
Sekilas perbedaan ulama dalam niat.

Mazhab Syafi’i :
Satu kali niat untuk satu kali puasa artinya niat puasa harus dilakukan setiap malam.

Mazhab Malik :
Boleh menggabungkan niat di awal puasa selama satu bulan penuh dengan syarat dalam sebulan itu tidak terputus dengan batalnya puasa, jika sempat terputus dengan tidak berpuasa maka ia harus memulai dengan niat yang baru lagi seperti terputusnya karena haid.

Mazhab Abu Hanifah :
Tidak ada perbedaan dalam puasa wajib atau sunnah bahwa menginapkan niat di malam hari tidak wajib menurut Imam Abu Hanifah, jika berniat setelah terbitnya matahari tetap sah asalkan matahari belum tergelincir (masuk waktu dzuhur) dan belum melakukan hal-hal yang memba-talkan puasa.

3. Puasa qodho.
Bagi yang punya hutang puasa cara mengqodhonya adalah dengan melakukan puasa di hari-hari yang di perkenankan puasa di sepanjang satu tahun setelah ramadhan, yaitu selain :

1. Hari raya Idul Fitri
2. Hari raya Idul Adha
3. 3 hari tasyrik (11,12,13 Dzul Hijjah)

Cara niat puasa qodho’ sama dengan cara niat puasa ramadhan adapun menam-bah kalimat qodho’ itu tidak harus akan tetapi sekedar dianjurkan.
Jika mengqodho’ puasa ramadhan bertepatan dengan hari-hari di sunnahkan puasa sunnah, maka cukup niat puasa qodho yang wajib saja tanpa harus diba-rengi dengan niat puasa sunnahnya. Dan orang tersebut sudah mendapatkan pahala puasa wajib dan puasa sunnah sekaligus biarpun tanpa diniatkan puasa sunnah. Wallahu a’lam bisshowab

komentar sahabat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s