Penjelasan Prof. Dr. Syeikh Ali Jum’ah tentang Bid’ah

Untuk bisa memahami maksud dari “bid’ah” maka kita harus memahaminya secara bahasa dan istilah syara’. Dan kita mulai dari makna secara bahasa terlebih dahulu.

Bid’ah secara bahasa ada sesuatu yang baru dan apa yang diada-adakan di dalam agama setelah penyempurnaannya. Menurut Ibnu al-Sukait: Bid’ah ada sesuatu yang baru dan kebanyakan apa yang digunakan oleh ahli bid’ah secara umum ada di dalam sesuatu yang tercela. Berkata Abu ‘Adnan: seorang ahli bid’ah adalah seseorang yang mendatangkan sesuatu yang tidak ada yang menyerupainya sebelumnya. Dan (dicontohkan dalam kalimat) “Si fulan melakukan bid’ah di dalam masalah ini.” Maksudnya adalah tidak ada yang mendahului melakukan itu sebelumnya.

Allah berfirman di dalam surat Al-Hadid ayat 27.

ورهبانية ابتدعوها….

“Dan kerahiban yang mereka ada-adakan.”

Bid’ah secara syara’:

Ada dua jalan yang ditempuh para ulama dalam mendefinisakan bid’ah secara syara’:

Pertama: Jalan yang ditempuh oleh Al-‘Izz bin Abdussalam; sesuatu yang Nabi SAW tidak pernah melakukannya maka itu adalah bid’ah, dan bid’ah sendiri terbagi menurut hukum-hukum fikih. Al-‘Izz bin Addussalam berkata: “Perbuatan yang tidak ada di masa Rasulullah SAW itu terbagi ke dalam beberapa hukum: :Bid’ah Wajib, Bid’ah Haram, Bid’ah Sunat, Bid’ah Makruh, dan Bid’ah Mubah. Dan jalan mengetahui hal tersebut adalah dengan cara memasukkan perbuatan bid’ah tersebut ke dalam kaidah-kaidah syariat: Kalau dia masuk ke dalam kaidah wajib maka dia menjadi bid’ah wajib, apabila dia masuk ke dalam kaidah haram maka dia menjadi bid’ah haram, apabila dia masuk ke dalam kaidah sunat maka dia menjadi bid’ah sunat, apabila dia masuk ke dalam kaidah makruh maka dia menjadi bid’ah makruh, apabila dia masuk ke dalam kaidah mubah maka dia menjadi bid’ah mubah.

Imam Nawawi mendukung pernyataan ini dengan berkomentar: “Setiap yang tidak ada di zaman Rasulullah SAW adalah bid’ah, akan tetapi daripadanya ada yang baik dan ada yang sebaliknya.”

Jalan Kedua: Sebagian ulama ada yang memahami bid’ah secara syara’ lebih khusus daripada secara bahasa. Maka mereka menamakan bid’ah hanya untuk perbuatan yang tercela dan haram saja. Dan tidak menamai bid’ah yang masuk ke dalam kategori wajib, sunat, mubah, atapun makruh sebagai bid’ah sebagaimana yang dilakukan oleh Al-‘Izz bin Abdussalam. Kelompok ini membatasi pemahaman bid’ah hanya pada perbuatan haram. Dan di antara yang berpendapat seperti itu adalah Ibnu Rajab Al-Hanbaly rahimahullah. Dan dia menjelaskan pendefinisian ini dalam perkataannya: “Dan yang dimaksud dengan bid’ah adalah apa saja yang tidak ada asal-usulnya/dasarnya di dalam syariat yang menjadi dalil atas perbuatan itu. Ada pun apa saja yang memiliki asal/dasar di dalam syariat yang menjadi dalil atas perbuatan itu maka itu bukan bid’ah, walau pun itu bid’ah secara bahasa.”

Pada hakikatnya kedua pandangan ini bersepakat bahwa bid’ah yang tercela secara syara’ yang pelakunya mendapatkan dosa adalah bid’ah yang tidak ada dasarnya di dalam syariat yang bisa menjadi dalil atas bid’ah tersebut. Dan inilah yang dimaksud dari sabda Rasulullah SAW. “Setiap bid’ah itu sesat.”

Dan ini adalah pemahaman yang jelas dan terang dari para imam ahli fikih dan ulama yang menjadi panutan umat. Dan di antara yang mengikuti pemahaman ini adalah Imam Syafi’i rahimahullah ta’alaa yang mana meriwayatkan dari Imam Baihaqi bahwa dia berkata: “Hal-hal yang baru dari berbagai hal itu ada dua macam: Pertama; hal-hal baru yang menyelisihi Al-Qur’an, Sunnah, atsar sahabat, dan ijma’ ulama maka ini adalah bid’ah yang sesat. Kedua: Hal-hal baru yang berupa kebaikan yang tidak menyelisihi satu pun sumber-sumber agama maka ini adalah hal baru yang tidak tercela.”

Hujatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah berkata: “Tidak semua bid’ah itu terlarang, akan tetapi yang terlarang itu adalah bid’ah yang bertentangan dengan sunnah tsabitah, dan menyingkirkan perintah-perintah syariat.” (Ihya Ulumuddin)

Imam al-Nawawi rahimahullah menukil dari Sultan Para Ulama Imam ‘Izzuddin bin Abdussalam tentang masalah ini, dia berkata: “Berkata Syeikh Imam yang terkumpul di dalam dirinya berbagai kemuliaan dan cakap dalam berbagai ilmu beserta seluk beluknya, Abu Muhammad Abdul Aziz bin Abdussalam radhiyallahu ‘anhu di dalam akhir kitabnya tentang kaidah bid’ah itu terbagi ke dalam wajib, haram, sunat, makruh, dan mubah. Dan dia berkomentar di tempat lain di dalam kitabnya perihal bersalaman setelah selesai shalat. Maka kami sisipkan fatwa perihal bersalaman setelah selesai shalat. “Ketahuilah bahwa salaman ini disunatkan di setiap perjumpaan, adapun orang-orang menambahi bersalam setelah dua shalat yaitu Subuh dan ‘Ashar, maka tidak ada dasar di dalam syariat akan hal ini. Akan tetapi tidak mengapa karena sesungguhnya asal hukum bersalaman adalah sunat. Ada pun mereka yang menjaga tetap melakukan di sebagian keadaan dan meninggalkan di sebagian besar atau kebanyakan hal lain tidaklah menjadikan salaman itu keluar dari hukum asal bersalaman yang datang di dalam syariat.

Berkata Ibnu Al-Atsi: Bid’ah itu ada dua, bid’ah hidayah (yang berdasarkan petunjuk) dan bid’ah dhalalah (yang sesat). Maka apa saja yang menyelisihi apa yang diperintahkan Allah dan Rasulullah SAW maka dia cenderung kepada ketercelaan dan keingkaran. Dan sesuatu yang berada di bawah naungan dalil-dalil umum yang sunat dan yang dianjurkan maka dia cenderung kepada keterpujian. Dan sesuatu yang tidak ada contohnya (dari Rasulullah SAW) baik berupa kedermawanan, kemurahan hati, dan berbagai perbuatan baik lainnya maka itu adalah perbuatan yang terpuji.

Dan tidak boleh perbuatan baru itu menyelisihi apa yang datang di dalam syariat, karena Rasulullah SAW menjajikan pahala (jika sesuai syariat). Maka Nabi SAW bersabda dalam salah satu hadits shahih:

من سن سنة حسنة كان له أجرها و أجر من عمل بها

“Barangsiapa yang mengerjakan perbuatan yang baik maka dia akan mendapatkan pahala atas perbuatan baiknya itu dan pahala orang-orang yang ikut melakukan perbuatan baik itu.”

Dan Rasulullah SAW bersabda sebagai kebalikan dari hadits di atas:

من سن سنة سيئة كان عليه وزرها و وزر من عمل بها

“Barangsiapa yang mengerjakan perbuatan buruk maka dia akan mendapatkan dosa atas perbuatan buruknya itu dan dosa orang-orang yang mengikuti perbuatan buruk itu.”

Hal ini jika perbuatan itu menyelisihi apa yang diperintahkan Allah Ta’alaa dan Rasul-Nya SAW.

Dan di antara jenis yang ini (bagian yang tidak menyelisihi syariat) adalah perkataan Umar radhiyallahu ‘anhu “Ini adalah sebaik-baiknya bid’ah”, ketika Umar bin Khattab melihat adalah perbuatan baik yang masuk ke dalam kecenderungan terpuji maka dia menamainya dengan bid’ah dan dia memujinya, karena Nabi SAW tidak memberikan contohnya kepada mereka. Pada waktu itu di bulan Ramadhan Nabi melakukan shalat tarawih beberapa malam di masjid kemudian dia meninggalkannya dan tidak meneruskannya dan tidak pula mengumpulkan orang untuk shalat berjama’ah dengannya. Dan shalat tarawih berjama’ah ini juga tidak dikerjakan di masa Abu Bakar. Kemudian di masa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu orang-orang dikumpulkan oleh Umar dan Umar mensunnahkan untuk mereka dan Umar menamainya dengan bid’ah namun secara hakikatnya dia sejalan dengan sunnah dengan berdasar kepada hadits Nabi SAW:

عليكم بسنتي و سنة خلفاء الراشدين من بعدي

“Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafa’ur rasyidin setelahku”

Dan atas dasar hadits:

اقتدوا بالذين من بعدي: أبي بكر و عمر

“Ikutilah orang-orang setelahku (utamanya) Abu Bakar dan Umar.”

Dan dengan penafsiran ini maka mencakupi makna hadits lain yang berbunyi:

كل محدثة بدعة

“Setiap yang baru itu bid’ah.”

Maksudnya adalah setiap apa-apa yang menyelisihi pokok-pokok syariat dan tidak sesuai dengan sunnah.

Lantas bagaimana para ulama menyepakati pemahaman “bid’ah” ini?

Jumhur Imam dari para ulama yang jadi panutan menyepakati tentang bid’ah bahwasannya bid’ah itu terbagi menjadi beberapa bagian sebagaimana muncul hal itu di dalam perkataan Imam Syafi’i rahimahullah dan ulama yang mengikutinya Imam Al-‘Izz bin Abdussalam, Imam al-Nawawi, Abu Syamah. Dan para pengikut Malikiyah seperti Al-Qurofi dan Al-Zarqani. Dan para pengikut Hanafiyah semisal Ibnu ‘Abidin. Dan pengikut Hanabilah Ibnu Al-Jauzi, dan pengikut aliran zahiriyah seperti Ibnu Hazm. Dan definisi yang diberikan oleh Al-‘Izz bin Abdussalam mewakili semua pandangan tentang bid’ah ini:

“Bid’ah adalah sesuatu yang tidak ada di zaman Rasulullah SAW dan dia terbagi menjadi bid’ah wajib, bid’ah haram, bid’ah sunnah, bid’ah makruh, dan bid’ah mubah.”

Dan para ulama memberikan contoh dari setiap pembagian di atas.

Contoh bid’ah wajib adalah menyibukkan diri dalam belajar ilmu nahwu dan sharaf, karena dengan mempelajari ilmu nahwu dan sharaf kita bisa mempelajari Kalam Allah dan Hadits Rasulullah SAW. Maka dari itu belajar nahwu dan sharaf adalah bid’ah yang wajib.

Contoh bid’ah yang haram adalah adanya madzhab Qadariyah, madzhab Jabariyah, madzhab Murji’ah, dan madzhab Khawarij.

Contoh bid’ah yang sunnah adalah shalat Tarawih berjama’ah di masjid, membangun sekolahan, membangun saluran air, dan lain-lain yang bermanfaat bagi orang banyak.

Contoh bid’ah yang makruh adalah membuatkan perhiasan mewah di masjid dan menata ulang susunan mushaf.

Contoh bid’ah yang mubah adalah bersalaman setelah selesai shalat, mengembangkan kelezatan makanan dan minuman, dan mengembangkan model pakaian.

Para ulama membagi bid’ah menjadi 5 dengan argumentasi dari nash-nash yang ada, di antaranya:

1. Perkataan Umar bin Khattab di dalam masalah shalat Tarawih berjama’ah di masjid di bulan Ramadhan, dengan kata-katanya: “Ini adalah sebaik-baiknya bid’ah.”

Telah diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abdul Qari bahwa dia berkata: “Aku keluar bersama Umar bin Al-Khattab pada suatu malam di bulan Ramadhan ke masjid, pada saat itu orang-orang terbagi-bagi ke dalam beberapa kelompok dan mengerjakan shalat sendiri-sendiri. Dan seseorang shalat dengan kelompoknya sendiri. Maka Umar berkata: “Membayangkan kalau seandainya aku mengumpulkan mereka semua di belakang satu imam tentu itu adalah hal bagus. Kemudian Umar berazam untuk mewujudkan bayangannya. Maka akhirnya Umar mengumpulkan dengan menunjuk Ubay bin Ka’ab sebagai imam kemudian aku keluar bersama Umar di malam yang lain dan orang-orang shalat Tarawih berjama’ah di belakang satu qori’/imam. Maka Umar berkata: “Ini adalah sebaik-baiknya bid’ah. Dan yang tidur (untuk bangun di tengah malam dan shalat Tarawih) itu lebih afdhol dari yang shalat berjama’ah.” Maksudnya adalah di akhir malam dan sebagian orang shalat tarawih di awal malam.

2. Abdullah bin Umar bin Al-Khattab juga menamakan shalat Dhuha’ secara berjama’ah di masjid sebagai bid’ah. Dan itu termasuk di dalam perkara-perkara yang bagus. Diriwayatkan oleh Imam Mujahid, dia berkata: “Aku dan Urwah bin Al-Zubair masuk ke dalam masjid. Ketika itu Ibnu Umar sedang duduk dekat kamarnya ‘Aisyah ra. Sementara orang-orang shalat dhuha’ berjama’ah di masjid. Maka kami menanyakan tentang shalat dhuha’ yang dilakukan mereka. Abdullah bin Umar pun berkata: “Itu bid’ah.”

3. Banyak hadits-hadits yang meriwayatkan tentang pembagian bid’ah menjadi bid’ah khasanah dan sayyiah (baik dan buruk), di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan secara marfu’ (Sanadnya sampai ke Rasulullah SAW.):

من سن سنة حسنة كان له أجرها و أجر من عمل بها إلى يوم القيامة، من سن سنة سيئة كان عليه وزرها و وزر من عمل بها إلى يوم القيامة

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang baik (apapun itu baik yang dicontohkan Nabi atau tidak) maka dia akan mendapatkan pahala dari amal baiknya itu dan orang yang ikut mengerjakan amal baik itu. Dan barangsiapa yang melakukan amal yang buruk maka dia akan mendapatkan dosa dari perbuatannya itu dan dari orang yang ikut mengerjakan amal buruk itu. (HR. Muslim)

Dari apa yang sudah dijelaskan, maka jelas lah bahwa di sana ada pandangan umum dari hal ini yaitu: Pendapat yang disampaikan Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dan ulama lain yang sependapat dengannya itu menyatakan bahwa perbuatan-perbuatan yang pelakunya diberi pahala atas pekerjaan itu tidaklah dinamai bid’ah secara syara’, walaupun secara bahasa itu dinamai bid’ah. Dan Ibnu Rajab bermaksud untuk tidak menamai perbuatan itu sebagai bid’ah yang tercela secara syara’.

Wallahu a’lam…

komentar sahabat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s