Keutaman Zikir LAA ILAAHA ILLALLOH AL MALIKUL HAQQUL MUBIN

Dari Ali RA ia berkata,saya mendengar Rasululloh SAW bersabda,saya mendengar Jibril mengatakan,”Barang siapa yang mengatakan dari umatmu 100x kalimat : Laa ilaaha illallohul malikul haqqul mubin”
{Tiada Tuhan selain Alloh,Yang Maha Raja,Maha Benar & Nyata}
Maka ia :
1. Aman dari kefakiran/kemiskinan.
2. Mendapat kekayaan.
3. Ketenangan/ketentraman di alam kubur.
4. Mengetuk pintu syurga.
5. Dibukakan 8 pintu syurga.
6. Selamat dari siksa kubur.
7. Akan datang dunia dengan segala kemudahan.
8. Alloh akan menciptakan setiap kalimat menjadi satu “malaikat” yang bertasbih kepada Alloh.

B. Rosululloh SAW bersabda : “Perbarui iman kalian”,sahabat bertanya,Bagaimana memperbaruinya?” Rosululloh SAW bersabda : “Perbanyak ucapan Laa ilaaha illalloh”.

C. Dari Ali RA dari Rosulloh SAW,Jibril memberi tahu saya seraya berkata : Alloh berfirman ; “Laa ilaaha illalloh” bentengku,siapa yang masuk padanya aman dari siksa neraka.

D. Tidak ada hamba yang membaca “Laa ilaaha illalloh” 100x kecuali Alloh akan membangkitkan pada hari kiamat wajahnya seperti bulan purnama.

Wallohu A’lam

MENEMBUS TUJUH LAPIS LANGIT

Sohabat Mu’az bin Jabal rodiyallohu ‘anhu menyampaikan bahwa ketika beliau sedang bersama Rosululloh sollallohu ‘alaihi wa sallam,Rosululloh sollalloh ‘alahi wa sallam menyampaikan sebuah hadis yang sangat ditekankan untuk diperhatikan sehingga beliau sampai bersabda, “Aku sampaikan sebuah hadis yang apabila kamu pelihara – apabila kamu perhatikan, maka bermanfaat bagimu dan apabila kamu sia-siakan – apabila kamu sepelekan, maka kamu tidak akan punya hujjah – tidak akan punya alasan, di hadapan Allah ‘azza wa jalla”
Rosululloh sollallohu ‘alaihi wa sallam menyampaikan bahwa Allah menciptakan tujuh Malaikat dan tujuh langit, satu Malaikat menjadi penjaga pintu dari satu langit. Malaikat tersebut akan memeriksa setiap orang yang amalnya diangkat ke langit oleh Malaikat Hafazoh.
LANGIT PERTAMA
Ada amal yang bersinar bagaikan matahari dan Malaikat Hafazoh yang membawanya memuji banyak dan bersihnya amal tersebut, Malaikat penjaga pintu langit pertama menghentikannya seraya berkata, “Tamparkan amal ini pada wajah pelakunya, aku pemeriksa gibah, aku diperintahkan Allah untuk tidak membiarkan amal para pelaku gibah untuk melewatiku – aku diperintahkan Allah untuk tidak membiarkan amal orang yang suka menceritakan kejelekan orang lain untuk melewatiku”
LANGIT KEDUA
Ada amal lain yang berkilauan cahayanya, banyak dan dipuji oleh Malaikat Hafazoh yang membawanya. Amal ini berhasil melewati langit pertama karena pelakunya tidak pernah menceritakan keburukan orang lain. Tetapi ketika sampai di pintu langit kedua, penjaga langit kedua menghentikan seraya berkata, “Berhenti, tamparkan amal ini ke wajah pelakunya, sesungguhnya ia punya maksud duniawi dengan amalnya – ia mengejar kekayaan, ia mengejar kekuasan dengan amalnya – aku diperintahkan Allah tidak membiarkan amalnya melewatiku”
Dilaknatlah pelakunya oleh para Malaikat sampai sore hari.
Baca lebih lanjut

BERKAH MAJELIS DAN NAZHOR AULIYA’

Dikisahkan dahulu pada saat zaman al-Imam Abdullah ibn Alawi al-Haddad -radhiyallahu ta’ala ‘anhu wa ardhah- tiba-tiba saja di majelis beliau didatangi oleh seorang pemuda dari keturunan Alaydrus yang datang dari desa. Ia datang ke majelis tersebut dengan pakaian yang senonoh (tak pantas), rambutnya pun tak terurus. Lalu ia melangkahi orang-orang yang sudah duduk di depan majelisnya Sayyidinal-Imam Abdullah ibn Alawi al-Haddad.

Di situlah para hadirin banyak yang menggunjing pemuda itu, namun al-Habib Abdullah ibn Alawi al-Haddad dengan fasihnya justru mengatakan, “Wahai para hadirin, jangan sampai kalian menggunjing dia walaupun dia masih muda, walau dia datang dengan pakian seperti itu (tak pantas). Tapi ketahuilah, ini cukup baginya untuk duduk di majelis semacam ini. Karena kakeknya adalah Sulthanul-Mala’, Sulthanul-Wujud al-Habibul-Imam Abdullah ibn Abu Bakar Alaydrus.” Masya Allah, itulah tarbiyyah yang diajarkan AJDADUNA/ LELUHUR KITA.

Baca lebih lanjut

Beberapa Faidah

Ada banyak Jamaah Shalat jum’at yang pulang begitu saja setelah jumatan usai, padahal banyak faidah yang tersembunyi apabila jamaah melakukan wirid/amalan setelah shalat, berikut kami tampilkan faidah-faidah tersebut:

Beberapa Faidah

1. Ibni Abbas ra meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda barang siapa setelah usai Shalat Jum’at membaca سبحان الله العظيم وبحمده 100x maka ia diampuni seratus ribu dosanya, dan kedua orang tuanya diampuni Dua Puluh empat ribu dosanya.

2. Dari Sayyid abdil Wahhab Assya’rani “ Barang siapa istiqomah membaca dua bait ini pada setiap hari jumat, maka Allah akan mengambil nyawanya dalam keadaan Islam dengan tanpa ragu,
Dua bait itu adalah:
: إلهي لست للفردوس أهلا * * ولا أقوى على نار الجحيم
فهب لي توبة، واغفر ذنوبي * * فإنك غافر الذنب العظيم

Dan sebagian Ulama berpendapat “dua bait diatas dibaca lima kali setiap setelah Shalat Jum’at”.

Baca lebih lanjut

TIDAK ADA PASIEN DATANG KE KLINIK

Ada seorang dokter membuka klinik di Tanah Suci (Makkah Mukarramah). Selama 6 bulan praktek, tidak ada seorang pasienpun yang datang untuk berobat. Hingga beliau merasa heran, apakah orang-orang di sini tidak pernah sakit?
Akhirnya beliau temukan jawabannya, dari salah seorang muslim di sana :
Bila kami sakit,
ikhtiar pertama yg kami lakukan ialah
shalat dua rakaat, dan memohon kesehatan kpd Allah. In syaa Allaah sembuh dengan ijin dan kasih sayangNya.
Kalau belum sembuh,
Ikhtiar ke-dua.
Yaitu baca Al Fatihah/surat2 lain, tiupkan pada air dan minum. Dan alhamdulillaah kami akan sehat. Inilah Ruqyah utk diri sendiri.
Tapi kalau belum sehat juga, kami lakukan ikhtiar yg ke-tiga.
Yaitu bersedekah, dengan niat mendapatkan pahala kebaikan, & dijadikan jalan penyembuh sakit kami. In syaa Allah akan sembuh.
Kalau tidak sembuh juga, kami akan tempuh ikhtiar yg ke-empat.
Yaitu banyak2 istighfar, untuk bertaubat. Sebab, Nabi ﺻﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ beritahu kami, bahwa sakit adalah salah satu sebab diampuninya dosa2.
Kalau belum sembuh juga, baru kami lakukan ikhtiar yg ke-lima.
Yaitu minum madu dan habbatussauda’.
Ikhtiyar yg ke-enam yaitu dengan mengonsumsi makanan herbal, seperti bawang putih, buah tin, zaitun, kurma, dan lain-lain, seperti disebut dalam Al Qur’an.
Dan,Alhamdulillah. Laa hawlaa wa laa quwwataa illaa billaah. Jika belum sembuh, baru kami ikhtiar ke-tujuh yaitu pergi ke dokter muslim yg shalih.
In syaa Allah akan diberi kesembuhan dari Allah SWT. Aamiin..
Wallaahu a’lam..

Baca lebih lanjut

TAHLILAN 7 HARI

( SEJAK DULU SUDAH POPULER DI MAKKAH DAN MADINAH )

Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi asy-Syafi’i rahimahullah (salah satu pengarang kitab tafsir Jalalain) didalam al-Hawi lil-Fatawi menceritakan bahwa kegiatan ‘tahlilan’ berupa memberikan makan selama 7 hari setelah kematian merupakan amalan yang tidak pernah ditinggalkan oleh umat Islam di Makkah maupun Madinah. Hal itu berlangsung hingga masa beliau :

أن سنة الإطعام سبعة أيام، بلغني أنها مستمرة إلى الآن بمكة والمدينة، فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابة إلى الآن، وأنهم أخذوها خلفا عن سلف إلى الصدر الأول

“Sesungguhnya sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai kepadaku bahwa sesungguhnya amalan ini berkelanjutan dilakukan sampai sekarang (yakni masa al-Hafidz sendiri) di Makkah dan Madinah. Maka secara dhahir, amalan ini tidak pernah di tinggalkan sejak masa para shahabat Nabi hingga masa kini (masa al-Hafidz as-Suyuthi), dan sesungguhnya generasi yang datang kemudian telah mengambil amalan ini dari pada salafush shaleh hingga generasi awal Islam. Dan didalam kitab-kitab tarikh ketika menuturkan tentang para Imam, mereka mengatakan “manusia (umat Islam) menegakkan amalan diatas kuburnya selama 7 hari dengan membaca al-Qur’an’. [1]
Hal ini kembali di kisahkan oleh al-‘Allamah al-Jalil asy-Syaikh al-Fadlil Muhammad Nur al-Buqis didalam kitab beliau yang khusus membahas kegiatan tahlilan (kenduri arwah) yakni “Kasyful Astaar” dengan menaqal perkataan Imam As-Suyuthi :

أن سنة الإطعام سبعة أيام بلغني و رأيته أنها مستمرة إلى الأن بمكة والمدينة من السنة 1947 م إلى ان رجعت إلى إندونيسيا فى السنة 1958 م. فالظاهر انها لم تترك من الصحابة إلى الأن وأنهم أخذوها خلفاً عن سلف إلى الصدر الإول. اه. وهذا نقلناها من قول السيوطى بتصرفٍ. وقال الإمام الحافظ السيوطى : وشرع الإطعام لإنه قد يكون له ذنب يحتاج ما يكفرها من صدقةٍ ونحوها فكان فى الصدقةِ معونةٌ لهُ على تخفيف الذنوب ليخفف عنه هول السؤل وصعوبة خطاب الملكين وإغلاظهما و انتهارهما.

“Sungguh sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai informasi kepadaku dan aku menyaksikan sendiri bahwa hal ini (kenduri memberi makan 7 hari) berkelanjutan sampai sekarang di Makkah dan Madinah (tetap ada) dari tahun 1947 M sampai aku kembali Indonesia tahun 1958 M. Maka faktanya amalan itu memang tidak pernah di tinggalkan sejak zaman sahabat nabi hingga sekarang, dan mereka menerima (memperoleh) cara seperti itu dari salafush shaleh sampai masa awal Islam. Ini saya nukil dari perkataan Imam al-Hafidz as-Suyuthi dengan sedikit perubahan. al-Imam al-Hafidz As-Suyuthi berkata : “disyariatkan memberi makan (shadaqah) karena ada kemungkinan orang mati memiliki dosa yang memerlukan sebuah penghapusan dengan shadaqah dan seumpamanya, maka jadilah shadaqah itu sebagai bantuan baginya untuk meringankan dosanya agar diringankan baginya dahsyatnya pertanyaan kubur, sulitnya menghadapi menghadapi malaikat, kebegisannyaa dan gertakannya”. [2]

Istilah 7 hari sendiri didasarkan pada riwayat shahih dari Thawus yang mana sebagian ulama mengatakan bahwa riwayat tersebut juga atas taqrir dari Rasulullah, sebagian juga mengatakan hanya dilakukan oleh para sahabat dan tidak sampai pada masa Rasulullah.

[1] al-Hawi al-Fatawi [2/234] lil-Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi.

[2] Kasyful Astaar lil-‘Allamah al-Jalil Muhammad Nur al-Buqir, beliau merupakan murid dari ulama besar seperti Syaikh Hasan al-Yamani, Syaikh Sayyid Muhammad Amin al-Kutubi, Syaikh Sayyid Alwi Abbas al-Maliki, Syaikh ‘Ali al-Maghribi al-Maliki, Syaikh Hasan al-Masysyath dan Syaikh Alimuddin Muhammad Yasiin al-Fadani.

Yg bilang ajaran 7 hari sperti ajaran hindu siapa ?? Tanyaain ma mereka apakah di negara arab sana zaman dlu ada agama hindu di sana ??

NIAT PUASA

Yang wajib dihadirkan di dalam niat adalah :

1. Untuk puasa wajib :

a. Bermaksud berpuasa
b. Meyakini kefardhuannya (bahwa puasa yang akan dilakukan adalah wajib)
c. Menentukan jenis puasanya

Ini semua cukup dilintaskan di dalam hati saja dan jika diucapkan dengan lidahnya asal hatinya tetap ingat akan niat tersebut maka puasanya juga sah bahkan sebagian ulama menganjurkan untuk diucapkan dengan lidahnya de-ngan bahasa apapun untuk membantu hati mengingat niat tersebut.

Contoh : “Aku berniat puasa Fadhu Ramadhan” (نَوَيْتُ صَوْمَ رَمَضَانَ فَرْضًا)

Aku Berniat Puasa = Bermaksud Puasa
Fardhu = Meyakini kefardhuannya
Ramadhan = Menentukan jenis puasanya.

2. Untuk puasa sunnah

1. Sunnah rowatib atau puasa sunnah yang sudah ditentukan waktunya seperti puasa 6 syawal atau puasa senin dan kamis. Cara niatnya adalah :

a. Bermaksud berpuasa
b. Menyebut puasa yang akan di lakukan

Contoh : “Aku niat Puasa hari kamis”نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الْخَمِيْسِ

Aku niat puasa = Bermaksud Puasa
Hari kamis = Menentukan jenis puasa sunnahnya

2. Puasa sunnah mutlaqoh atau puasa sunnah di selain hari-hari yang telah ditentukan. Cara niatnya adalah cukup bermaksud untuk berpuasa

Contoh : “Aku Niat Puasa” . نَوَيْتُ الصَّوْمَ

Catatan :
Di dalam berniat tidak harus menggunakan bahasa arab, akan tetapi dengan bahasa apapun niatnya maka puasa tetap sah.

Waktu niat di dalam berpuasa ada dua macam :

1. Puasa Fardhu
Untuk puasa fardhu (wajib) maka niatnya harus dilakukan sebelum terbit fajar sodik (fajar yang sesungguhnya) atau sebelum masuk waktu subuh.

Catatan:
Semua niat dalam ibadah adalah dila-kukan di awal memulai pekerjaan iba-dahnya kecuali puasa yang cara niatnya adalah bisa di malam hari jauh-jauh sebe-lum fajar shodiq terbit.

2. Puasa sunnah
Untuk puasa sunah tidak diharuskan niat pada malam harinya akan tetapi boleh berniat di pagi hari dengan 2 syarat :

1. Belum tergelincir matahari
2. Belum melakukan sesuatu yang mem-batalkan puasa yang tersebut di atas seperti makan atau minum.

Catatan :
Sekilas perbedaan ulama dalam niat.

Mazhab Syafi’i :
Satu kali niat untuk satu kali puasa artinya niat puasa harus dilakukan setiap malam.

Mazhab Malik :
Boleh menggabungkan niat di awal puasa selama satu bulan penuh dengan syarat dalam sebulan itu tidak terputus dengan batalnya puasa, jika sempat terputus dengan tidak berpuasa maka ia harus memulai dengan niat yang baru lagi seperti terputusnya karena haid.

Mazhab Abu Hanifah :
Tidak ada perbedaan dalam puasa wajib atau sunnah bahwa menginapkan niat di malam hari tidak wajib menurut Imam Abu Hanifah, jika berniat setelah terbitnya matahari tetap sah asalkan matahari belum tergelincir (masuk waktu dzuhur) dan belum melakukan hal-hal yang memba-talkan puasa.

3. Puasa qodho.
Bagi yang punya hutang puasa cara mengqodhonya adalah dengan melakukan puasa di hari-hari yang di perkenankan puasa di sepanjang satu tahun setelah ramadhan, yaitu selain :

1. Hari raya Idul Fitri
2. Hari raya Idul Adha
3. 3 hari tasyrik (11,12,13 Dzul Hijjah)

Cara niat puasa qodho’ sama dengan cara niat puasa ramadhan adapun menam-bah kalimat qodho’ itu tidak harus akan tetapi sekedar dianjurkan.
Jika mengqodho’ puasa ramadhan bertepatan dengan hari-hari di sunnahkan puasa sunnah, maka cukup niat puasa qodho yang wajib saja tanpa harus diba-rengi dengan niat puasa sunnahnya. Dan orang tersebut sudah mendapatkan pahala puasa wajib dan puasa sunnah sekaligus biarpun tanpa diniatkan puasa sunnah. Wallahu a’lam bisshowab

HADIST DHOIF DOA BERBUKA PUASA

Habib Novel Bin Muhammad Alaydrus, Pengasuh Majelis AR-RAUDHAH, SOLO
DOA dalam segala keadaan adalah boleh, dianjurkan dan sangat baik. Allah bahkan memerintahkan hambaNYA untuk berdoa memohon kepadaNYA. Allah mewahyukan:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Dan Rabbmu berkata, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (QS, Ghafir: 60)

Rasulullah saw bahkan mengajarkan umatnya untuk memanfaatkan waktu-waktu mulia guna berdoa agar doa tersebut lebih terkabul dan menghasilkan pahala lebih besar.

RAMADHAN secara keseluruhan adalah mulia, hanya saja ada waktu-waktu yang lebih mulia dan mustajab untuk berdoa, di antaranya adalah SAAT BERBUKA PUASA. Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ

Sesungguhnya setiap orang yang berpuasa ketika berbuka memiliki doa yang mustajab. (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

Dalam berbagai riwayat disebutkan, setelah berbuka dengan beberapa butir kurma atau air, Rasulullah saw membaca doa berikut:
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أفْطَرْتُ

Duhai Allah, hanya untukMU aku berpuasa dan dengan rezekiMU pula aku telah berbuka. (Hadits Dhoif Diriwayatkan Oleh Abu Dawud)
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الاْءَجْرُ إنْ شَاءَ الله
Dahaga telah sirna, urat-urat telah basah, dan insya Allah pahala pun telah diraih. (Hadits Hasan riwayat Abu Dawud)

Selain doa di atas, para sahabat juga mengarang doa sendiri saat berbuka. Karena itulah selain mengamalkan doa-doa yang diajarkan Nabi dalam berbagai riwayat, para sahabat juga mengarang doa sendiri, ketika berbuka. Sayidina ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash beliau setelah berbuka membaca doa berikut:
اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِيْ ذُنُوْبِيْ
Duhai Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMU dengan berkat rahmatMU yang meliputi segala sesuatu, tolong ampuni semua dosaku. (Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi)

Adapun Sayidina ‘Abdullah bin Umar bin Khothob setelah berbuka beliau membaca doa berikut:
يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ اِغْفِرْ لِيْ
Duhai yang Maha Luas ampunanNYA, tolong ampuni aku. (Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi)

Karena itu SUNGGUH ANEH jika ada ORANG YANG MENGAJAK KITA MENINGGALKAN DOA yang berasal dari Rasulullah saw HANYA KARENA HADITSNYA DHOIF, sementara mayoritas ulama menganjurkan untuk mengamalkan Hadits Dhoif sehubungan dengan keutamaan amal saleh dan doa salah satu di antaranya. Bahkan dalam hal doa, menyusun doa sendiri saja dianjurkan selama berdoa kebaikan.